Langsung ke konten utama

Postingan

Lulusan S2 kok kerja di restoran hotel?!

Beberapa pekan ini aku mempertanyakan keputusan hidupku karena seringkali ada orang yang bertanya kira-kira seperti, "mengapa kerja disini setelah lulus S2?" Jawaban defensifnya adalah, "ya terserah gue dong. hidup-hidup gue!?" Lalu setelah itu berdebat kusir mengenai betapa sia-sianya pendidikan tinggi yang sudah diraih, tetapi pada akhirnya pekerjaan yang didapatkan tidak bergengsi sama sekali. Jawaban inferiornya adalah, "yah gue emang belum siap jadi akademisi yang memerlukan kerja otak." Jawaban realistisnya adalah, "demi uang apapun bisa kulakukan. daripada kerja jadi akademisi, capek mikir tapi gaji gak seberapa." Pada akhirnya tak ada jawaban yang salah atau benar. Seringkali kupakai banyak modifikasi jawaban dari orang-orang yang "kepo" atau memang niat ingin menilai dan membandingkan dengan kehidupannya. Namun, jika ada yang benar-benar ingin mendengarkan, akan kujelaskan panjang lebar mengenai perjalanan hid...
Postingan terbaru

"I'm content with loneliness."

 “I’m content with loneliness.” Aku mengupingnya dari sebuah lirik lagu. Sebuah lirik dari lagu melankolis yang sedang diputar dari laptopku. Sepenggal bait lirik lagu ini mengingatkanku pada kehidupan yang telah kulalui sampai hari ini. Sepi dan kosong. Aku suka menyendiri. Sendirian bukan sesuatu yang aneh bagiku. Malah, rasanya semuanya akan baik-baik saja jika hanya ada aku dan diriku. Semuanya akan lebih mudah untuk dikendalikan daripada bersama orang lain. Aku akan dilanda rasa bersalah jika orang lain harus menyesuaikan diri dengan diriku dan sebaliknya. Rasanya sesak napas ketika harus setiap saat menyesuaikan diri dengan orang lain. Walaupun kedua kegiatan tersebut tidak sepenuhnya tidak menyenangkan. Hanya saja, akan lebih baik jika di penghujung malam aku sendirian. Setelah memperhatikan tindakanku sendiri aku berpikir apakah ini yang dikatakan dengan ‘content with loneliness’? atau apakah ini hanya alasan saja untuk menyangkal kehadiran sepi dalam diriku? Berpu...

LOVE: a cynical thought

[warning: grammatical error] It is sickening to talk about it A puzzle that would never find its last piece A conundrum for an expert places herself to a misery Only through sufferings she might solve that mystery Love could produce infinite hopes And simultaneously destroy it in loop Haunt her every night Distract her every daylight It feels like butterfly in her stomach But it seems more like a moth Chasing the light every night But could actually dying when its facing the sunlight How could she attracted to it? Like a child seeking comfort from a mother Like a baby seeking nipple for milk to survive A weak human being seeking for illusion to delude their reality 12 April 2023

Hidup itu seperti Komidi Putar

2-3 minggu yang melelahkan, akhirnya disambut harapan lagi. Berputar kembali duniaku. Sejatinya betul apa kata temanku waktu itu,  "hidup itu seperti komidi putar. kadang di bawah, kadang berputar." -HH Awalnya aku tertawa mendengar itu. Terasa nyata hampir membuatku terbahak-bahak menertawai hidupku sendiri. Hobiku yang sedari lama selalu mengenai menertawai diri sendiri membuat kalimat tersebut terdengar sangat komedi. Tak ada kebahagiaan yang abadi, lalu apa yang tersisa selanjutnya? lucunya, ternyata hidup ini terdengar begitu tak berharga. Awalnya aku berpikir sangat getir. Namun, aku pikirkan kembali setelah tertawaan itu selesai. Mungkin yang dia katakan adalah mengenai waktu.  Bagaimana waktu akan terasa berhenti berputar atau bergerak sangat lambat. di saat seperti itu, semuanya terasa lebih menyakitkan, menyedihkan, terlalu menderita karena kesendirian. Namun, saat harapan kembali muncul, dunia akan berputar lagi. Semua hal yang tadinya terasa menyakitkan kembali di...

Aku Hanya Bisa Tidur Nyenyak di Kereta

Tak lama setelah aku menginjakkan kakiku di sebuah bangunan yang sempat kutinggali waktu kecil hingga remaja. Suatu bangunan yang kusebut sebagai rumah. Akhirnya, aku bisa tidur nyenyak di dalam kereta. Sebuah ruangan 4x4 meter yang telah menemani masa remajaku. Ruangan-ruangan luas yang terlihat sempit karena barang-barang di dalamnya tak pernah ditata dengan rapi. Kursi-kursi dijejerkan di ruangan tengah tanpa batas dinding langsung melompong ke arah halaman rumah, sengaja disediakan untuk saudara-saudara beserta anak-anaknya, para mantu, atau mertua ketika datang bertamu. Suatu ruangan yang menyimpan masa kecilku. Kali ini setelah meninggalkan bangunan itu, aku memejamkan mata, mengingat-ingat betapa masa kecilku tak begitu berkesan lagi. Kecintaanku pada musik yang bermula di sebuah ruangan 4x4 meter. Di sana telah kuhabiskan waktu berjam-jam hingga menjadi awal obsesiku, tetapi tak berkembang menjadi apa-apa di umurku sekarang. Kenangan-kenangan buruk yang mengendap dalam memoriku...

Konsekuensi dari harapan adalah takut mati

Meminjam lirik lagu Seconhand Serenade - Your Call yg ditulis: and I'm tired of being all alone, and this solitary moment makes me want to come back home. Dimulai dari beberapa hari yang lalu saat-saat pikiranku penuh dengan ini itu. Di suatu pagi aku bangun lalu memainkan lagu musik klasik. Chopin - Nocturne no.2 in E-Flat Major, Schumann - Träumerei, Erik Satie - Gymnopédie no. 1. Musik-musik bernada sedih itu entah kenapa seperti berupaya menemaniku dalam kesendirian. Biarlah aku bersedih, tapi mungkin tak akan terlalu sedih jika ada yang menemani. Kala itu aku merasa kosong dan merindukan sesuatu. Aku pikir setelah melewati beberapa kegiatan dan deadline, pikiranku akan kembali seperti sebelumnya. Namun, ternyata berjalan semakin sedih hingga hari ini. Aku seperti merindukan sesuatu yang belum pernah aku alami. Aku merindukan seseorang yang belum pernah aku temui. Kekosongan semacam itu yang sering aku alami selama ini. Entah untuk mengisi apa, sebab aku pikir hidupku telah se...

amarah telah habis, lalu apa yang tersisa?

Semuanya seperti berhenti sejenak dalam momen yang aku tunggu-tunggu. Tiada kemarahan yang tersisa, hanya ada secuil harapan untuk masa depan. Pertanyaannya adalah apakah aku pantas mendapatkan harapan hidup? Aku telah kehabisan amarah. Aku tidak mengalami kekosongan. Oh, inikah yang dinamakan hidup? Apakah aku berhak mendapatkan sesuatu yang aku inginkan?  Selama hidup aku terus diajari untuk memaklumi kesalahan orang lain. Ketika mendapatkan sesuatu yang buruk, aku dipaksa untuk bersyukur. Katanya, tidak ada orang yang seberuntung kau! Aku mulai percaya, bahwa aku beruntung. Hasilnya, aku selalu mempertanyakan setiap kebahagiaan yang datang. Aku tidak tahu apa itu kebahagiaan ketika tragedi patut disyukuri dengan lapang dada.  Tiada amarah, hanya gelak tawa. Namun, bolehkah aku tertawa ketika membiarkan orang-orang tak beruntung itu menangis? haruskah aku selalu bersyukur sambil melihat bencana? Terluka, mungkin itu yang aku butuhkan. Mungkin itulah yang seharusnya aku rasak...