Beberapa pekan ini aku
mempertanyakan keputusan hidupku karena seringkali ada orang yang bertanya
kira-kira seperti, "mengapa kerja disini setelah lulus S2?"
Jawaban defensifnya
adalah,
"ya terserah gue
dong. hidup-hidup gue!?"
Lalu setelah itu berdebat kusir mengenai betapa sia-sianya pendidikan tinggi yang sudah diraih, tetapi pada akhirnya pekerjaan yang didapatkan tidak bergengsi sama sekali.
Jawaban inferiornya adalah,
"yah gue emang belum siap jadi akademisi yang memerlukan kerja otak."
Jawaban realistisnya
adalah,
"demi uang apapun bisa kulakukan. daripada kerja jadi akademisi, capek mikir tapi gaji gak seberapa."
Pada akhirnya tak ada jawaban yang salah atau benar. Seringkali kupakai banyak modifikasi jawaban dari orang-orang yang "kepo" atau memang niat ingin menilai dan membandingkan dengan kehidupannya.
Namun, jika ada yang benar-benar ingin mendengarkan, akan kujelaskan panjang lebar mengenai perjalanan hidupku. Mulai dari lingkungan terkecil (keluarga), susah senangnya hidup sendirian merantau tanpa ada "rumah" yang bisa kujadikan tempat aman untuk bercerita, hingga aku menemukan banyak harapan dan tumbuh mendewasakan diri sendiri. Pembicaraan ini memerlukan waktu yang panjang, dari hari ke hari, tidak hanya 5-10 menit saja.
Aku pikir juga pasti ada alasan tertentu mengapa beberapa orang begitu penasaran. Penilaian pribadiku adalah mungkin saja karena mereka tidak familiar dengan pengalaman hidup orang yang bermacam-macam. Mungkin juga mereka benar-benar peduli, dan menginginkan banyak interaksi sosial untuk tetap terhubung satu sama lain, tetapi tidak banyak waktu luang untuk menjalaninya. Mau bagaimana lagi jika kita hidup dalam lingkungan dengan tekanan produktivitas yang tinggi, aku pikir konsekuensinya adalah kedangkalan dalam percakapan sehari-hari--yang aku rasa kadang-kadang menyenangkan, tetapi aku tidak mengindahkannya sebagai prinsip hidupku.
Kadang-kadang aku pikir orang selalu ingin jawaban cepat, rasional, dan mantap saat "penasaran" dengan keputusanku. Padahal proses membuat keputusan ini sangat berliku-liku.
Ada banyak hal yg
harus kurelakan dan kukorbankan demi hidup dalam ketidaknyamanan dan
ketidakpastian. Pastinya mau membuat keputusan apapun pada akhirnya selalu ada
konsekuensi yang perlu dihadapi dan persiapan atas resiko yang mungkin terjadi.
Serta yang selalu ingin kutegaskan dalam aksiku setiap hari adalah bertanggungjawab atas keputusan yang telah kubuat, yg artinya aku telah siap dengan konsekuensi dan resiko yg mungkin akan terjadi.
Tentu selalu terjadi keraguan dalam diriku setiap ada orang yg sengaja atau tidak sengaja merendahkan dan mempertanyakan keputusanku. aku sadar hal ini juga adalah bagian dari konsekuensi yang perlu kujalani. Namun, solusiku selalu sama yaitu: membangun pondasi niat yg kuat untuk terus fokus ke dalam tujuan hidupku.
Refleksiku untuk pengalaman ini adalah setiap orang mempunyai jalan hidupnya masing-masing, aku pikir alih-alih mempertanyakannya dengan niat untuk membandingkan atau merendahkan, alangkah lebih baik jika kita membuka pikiran dan telinga untuk mendengarkan.
Komentar
Posting Komentar