Langsung ke konten utama

Postingan

Persahabatanku Dengan Kematian

Hari ini, tiba-tiba saja terlintas di pikiranku: "Mati terlihat lebih menyenangkan." Meskipun sebenarnya aku tidak tahu ada hal apa saja setelah kematian itu berlalu. Apakah seperti yang dikatakan oleh agama-agama bahwa ada kehidupan setelah kematian? mungkin akan terkuak setelah aku meninggal. Kebenaran akan adanya surga dan neraka pun akan terlihat. Di dalam kubur aku mungkin akan mengatakan, "Ah apa gunanya orang-orang beribadah, toh tidak ada apa-apa di sini!" atau "Tuhan, kumohon ampunilah dosa-dosaku! jika Engkau hidupkan aku kembali, aku akan bertobat, kumohon!" Teriakku kesakitan di sebuah kolam yang begitu besar berisi air panas mendidih. Skenario setelah kematian dapat aku bayangkan sekarang, tentu saja kemungkinan skenario tersebut aku dapatkan dari sekolah agama saat masih SD, kemudian dakwah-dakwah di pengajian yang sering aku dengar. Dibarengi dengan sikap skeptis, aku lebih memilih untuk diam dan tidak mau percaya apa pun. Tapi bukankah deng...

Mungkin Kita Telah Mati, Namun Tidak Mengetahuinya

Di suatu waktu aku bertanya, “apakah aku masih hidup?” sesuatu dalam diriku berharap aku telah mati, sehingga semuanya dapat masuk akal. Kekacauan (chaos) yang selama ini kita hadapi sehari-hari dalam kehidupan. Keinginan, hasrat, kontradiksi, paradoks yang selalu hadir untuk membingungkan kita tentang definisi hidup. Manusia berlarian kesana-kemari mencari jawaban dari pertanyaan, “Apa itu hidup? Dan siapakah kita?” Kita dibuat se-kompleks mungkin, se-detail mungkin, sehingga sulit untuk melihat secara utuh tentang keberadaan kita. Akhir-akhir ini aku mempertanyakan lagi, “Apa itu hidup?” dan mungkin pertanyaan ini sudah lama ditanyakan, sudah muncul juga banyak jawaban alternatif, sudah banyak teori-teori yang menjelaskan tentangnya, tapi tak pernah ada yang memuaskan. Buktinya pertanyaan ini tak pernah usai untuk ditanyakan di berbagai era. Kekacauan hidup yang aku hadapi selama ini malah membuatku berpikir,  Mungkin kita sebenarnya tidak benar-benar hidup, tapi sedang b...

Sedikit Refleksi: Berfoto dengan bule bikin kita bangga, kok bisa?

Aku inget waktu masih kerja di Jepang ketemu orang Korea, cewek, terlihat terbuka dari cara ngobrolnya yang friendly . Saat ngobrol-ngobrol dia bilang, “Aku kira Indonesia itu isinya hutan semua.” Kemudian waktu itu juga pernah ada orang Jepang namanya Maiki ngolok-ngolok bahwa Indonesia itu negara miskin yang gak punya banyak makanan. Lucu sih, karena berbeda dengan cewek Korea itu, responku disini marah sambil ngolok-ngolok balik Jepang, bahwa sebenarnya mereka yang miskin bukan kita. Kejadian ini mengingatkanku untuk merefleksikan kembali kelas pascakolonialisme yang sudah ku tempuh selama tujuh pertemuan di Magister Sastra UGM. Di kelas tersebut, sempat membahas buku Edward Said yang berjudul Orientalisme ke dalam tiga pertemuan. Aduh, agak ngebut itu sebenarnya karena tebal bukunya itu 400 halaman dengan size B5. Profesor nyuruh kita bahas dua BAB buku tersebut secara berkelompok. Satu kelompok dikeroyok 14 orang dan satu pertemuan membahas satu BAB. Dari presentasi teman-teman me...

Kekosongan (2)

            Apa kalian tau apa yang sedang dialami manusia itu sekarang? Selain sulit mengambil nafas karena hidupnya mengambang? Ia memutuskan untuk membuang hal-hal yang ingin ia lakukan. Ia putuskan untuk tak melakukan penceklisan apapun lagi. Ia menjadi seorang religius. Penting baginya untuk memercayai sesuatu. Agar datang kebaikan akhirnya. Meskipun selama ini hanya kekosongan yang selalu menghampirinya. Setidaknya dengan memercayai Tuhan, ia tak harus lagi berusaha keras untuk bahagia. Karena apapun yang terjadi, bahagia atau tidak, itulah takdir yang diberikan Tuhan. Kita hanya perlu  mensyukurinya. Ketika dihadapkan dengan cobaan, seorang religius akan berpikir tentang bagaimana Tuhan sedang menguji keimanannya. Tak peduli betapa pun sakit, penderitaan, bahkan sampai pertumpahan darah yang ia alami. Itu semua adalah kehendak Tuhan. Ia tak boleh mengeluh. Seorang teman bercerita kepada sang manusia tentang bagaimana hidupnya selalu berna...

Kekosongan

Ini adalah cerita tentang manusia yang memilih untuk terus hidup demi menjalankan hasrat dan tujuan untuk mencapai kebahagiaan absolut, tak terhingga, sepanjang masa. Ia sudah melakukan hal yang benar menurutnya sendiri. Mencatat hal-hal apa saja yang harus ia lakukan selama hidup. Ia ceklis hal yang sudah tercapai, kemudian dengan semangat membara terus berproses agar ia bisa menceklis lebih  banyak. Tapi ada yang aneh. Setelah menceklis satu hal ia mengalami euforia luar biasa. Ia berjingkrak-jingkrak, secara fisik dan roh. Ia berteriak, “Akhirnya aku menceklis satu hal!” Suatu hari ketika sedang bercermin ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Setelah ini apa?”. Ia berusaha untuk menjawabnya dengan optimis, “Oh aku akan menceklis lagi hal yang selanjutnya.” Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah, “Untuk apa aku menceklis hal ini?” Tujuan yang pada awalnya sangat ia impikan untuk diraih, lama kelamaan malah menjadi sebuah pernyataan besar, “Untuk apa?” Awalnya ia mengira inilah tuj...

Naomi Wolf: Vagina Bukan Hanya Sekedar Lubang

Naomi R. Wolf adalah seorang penulis feminis liberal progresif Amerika, jurnalis, sekaligus mantan penasihat politik Al Gore dan Bill Clinton yang lahir pada 12 November 1962. Wolf menjadi terkenal setelah menulis  The Beauty Myth  (1991). Dengan buku ini, ia menjadi juru bicara utama dari apa yang kemudian digambarkan sebagai gerakan feminis gelombang ketiga. Beberapa feminis terkemuka seperti Gloria Steinem dan Betty Friedan memuji buku ini; sementara yang lain, seperti Camile Paglia, Christina Hoff Sommers mengkritiknya. Sejak saat itu ia telah menulis beberapa buku lain, seperti  The End of America  dan termasuk  Vagina: A New Biography. Buku Naomi Wolf yang berjudul Vagina: Kuasa dan Kesadaran adalah buku pertamanya yang baru saja aku baca. Aku pikir kesan awal yang akan kudapatkan adalah merasa agak jorok karena membicarakan soal vagina atau merasa tidak nyaman karena membicarakan soal hubungan seksual yang bebas tak bermoral. Ternyata anggapanku salah, ...

Share Thoughts: Keinginan Banyak Orang adalah Untuk Menjadi Mapan

Aku pernah diberikan pertanyaan in terus-terusan dari kecil sampai besar. “Kamu mau jadi apa nanti?” Saat aku kelas 3 SD, aku berfikir menggambar itu suatu hal yang menyenangkan walaupun aku tidak terlihat berbakat aku dengan lantang bilang, “pelukis”. Saat itu juga mamaku dan papaku tertawa mendengar jawabanku. Aku berfikir, “apakah menjadi pelukis adalah suatu hal yang lucu?” akhirnya aku mengganti jawaban setelah aku mendapatkan pertanyaan itu lagi. Aku menggantinya dengan jawaban “Guru” “Dokter” “Dosen” karena itu adalah jawaban lumrah yang tidak akan ditertawakan oleh orang lain. Aku masih ingat waktu itu ada kebiasaan popular yang selalu dilakukan anak SD, yaitu memberi kertas berwarna dan bergambar lucu-lucu untuk diisi biodata kepada setiap anak di kelasnya. Pada biodata itu ada macam-macam kolom seperti nama, hobi, tempat tanggal lahir, minuman favorit, makanan favorit, pacar, dan cita-cita. Aku menulis kolom cita-cita dalam biodata tersebut dengan jawaban “menjadi...