Langsung ke konten utama

Postingan

Le Petit Prince: Selamat Hari Raya!

Seketika planet bumi yang ia datangi dikerumuni orang-orang. Ada sekumpulan orang dewasa dan anak berumur 3-8 tahun. Mereka berpakaian rapi, sementara tersenyum memperlihatkan gigi putih bersih nan rapi. Setelahnya bercakap-cakap perihal kebumian. Tidak sama sekali dimengerti oleh Pangeran Cilik.  "Selamat Hari Raya!" "Anakmu umur berapa?" "Usia kandunganmu berapa bulan?" "Kapan kamu menyusul sepupu-sepupumu menggendong bayi?" "Studimu lancar? Aku dengar tahun ini kamu sudah harus lulus." "Prospek pekerjaan jurusanmu apa? " Sementara ada sekumpulan orang-orang dewasa selain mereka duduk-duduk di pinggir jalan dengan pakaian lusuh, tak memancarkan senyuman keceriaan. Mereka tergeletak seperti seekor anjing jalanan. Ada yg berjalan-jalan mendorong gerobak penuh botol-botol plastik. Ada yang berdiam diri duduk termenung ditemani kucing-kucing liar. Tak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Pangeran Cilik berpikir mengapa m...

Kalang Kabut

Seminggu terakhir ini energiku terkuras habis. Perasaanku kalang kabut, tidak karuan. Senggol dikit, bacok. Sensitif dengan hal-hal kecil yang sebelumnya aku bisa atasi dengan tarik napas, buang napas. Aku sadar, naik turunnya kehidupan tidak bisa aku atur sendiri. Di sini—saat keadaan sedang kalut, aku hanya perlu mencari alasan untuk tetap bertahan seburuk apapun hidup menerjang kewarasan. Semalam, ketika kewarasanku sedang diuji, aku tertidur lemah karena kewalahan menjalani hari yang berat. Pagi hari ini ketika aku terbangun melalui suara notifikasi pesan dari smartphone , temanku memberikan komentar apresiasi pada tulisanku. Di luar tulisanku itu jelek atau tidak. Koheren atau tidak. Apapun itu kejelekannya yang sering aku pikirkan, aku sangat senang ketika membaca pesan dari temanku, Nadhil. Terima kasih banyak, Nadhil. Tidak hanya itu, saat aku menerima pujian dari Nadhil, aku kemudian memaklumi kejelekan tulisanku dan mulai mengapresiasinya. Yang aku pikirkan adalah, “saat in...

Share Thoughts: it is what it is

bagaimana caranya mengungkapkan rasa kesal luar biasa ketika alam semesta bertindak tidak etis? dia tak peduli siapa yang baik dan buruk, yang banyak dosa atau tidak, siapapun random saja dapat terkena masalah besar. bagaimana menyikapi peristiwa ini?  mantra 'it is what it is' menjadi sumber penghiburanku di saat kejutan-kejutan buruk alam semesta datang menghampiri. aku artikan sebagai 'ya sesuatu udah terjadi dan hasilnya gini, mau diapain lagi?'  masa lalu sudah berlalu, namun bukan berarti pikiran kita juga ikut maju. aku percaya seseorang bisa terjebak di masa lalunya, meskipun raganya beranjak tua dan renta. seseorang pernah bilang 'yang lalu biar dihapus saja, masa depan yang perlu dinanti-nantikan', aku pikir itu tidak sepenuhnya benar. yang lalu tidaklah dapat berlalu bahkan sampai dihapus begitu saja. mereka telah menjadi bagian dari dirimu sampai hari ini. kenanglah masa lalumu, jadikanlah mereka temanmu. teman yang baik atau pun buruk. yang menyakit...

Aku Tidak Ingin Menjadi Orang "Sukses"

Kita telah dituntut sejak kecil untuk mempunyai cita-cita yang besar. Aku ingat saat masih SD, temanku memberikan satu lembar kertas untuk mengisi biodata diri. Seperti nama, tanggal lahir, makanan/minuman kesukaan, cita-cita, dll. Entah mengapa hal tersebut menjadi trendy pada saat itu, namun yang aku ingat adalah aku selalu mengisi kolom cita-cita dengan "ingin menjadi orang yang sukses". Hal ini kalau tidak salah ingat disebabkan oleh narasi 'menjadi orang sukses' yang ditanamkan di sekolah dasar waktu itu. Suatu waktu aku pernah ditanya oleh orang tuaku, "kamu nanti kalau udah besar mau jadi apa?" Kemudian aku menjawab, "ingin menjadi pelukis" Kemudian orang tuaku malah menertawakanku, yang aku ingat betul tawanya memberikan sensasi "meremehkan". Sejak saat itu aku sering memperhatikan jawaban teman-temanku waktu ditanyai oleh seorang guru dengan pertanyaan yang sama, soal cita-cita. Jawaban mereka selalu sama,  yaitu diantara pilot...

Perihal Membaca

Suatu waktu s aat masih sekolah menengah , transisi dari dunia anak-anak menuju remaja, aku menjadi seorang yang takut berkenalan dengan orang baru. Duniaku berputar di ruang yang terbatas seperti rumah atau kamar, dengan bacaan komik atau novel teenlit . Aku pun sempat mengeksplorasi movie atau film. Sejak SMA kecintaanku padanya mulai memuncak. Sampai pada masa-masa beranjak dewasa aku mulai melupakan membaca. Hingga aku merasa hidupku sangat membosankan tanpa seni atau fiksi. Aku mulai membaca fiksi lagi dan memutuskan untuk melanjutkan sekolah. Bacaan-bacaan yang ‘berat’ belum tersentuh olehku, dan sampai sekarang pun masih meraba-meraba. Hanya saja berkat sekolah lanjut ini aku bisa berpikir lebih dalam apa makna membaca bagiku sendiri. Membaca telah menjadi aktivitas yang menurutku sama halnya dengan kegiatan bersosial. Mendengarkan orang lain berbicara setara dengan membaca kata-kata. Memahami makna dari gerak-gerik orang lain sama halnya dengan memahami isi bacaan. Namun, pe...

Tolstoy: Keserakahan Manusia Ketika Terjerat Kapitalisme

Bila membaca karya sastra ada suatu kebiasaan yang sering aku lakukan yaitu mencoba untuk masuk ke dalam cerita dengan menghubungkan duniaku dengan dunia yang terjadi di dalam karya sastra. Sehingga tak jarang aku pun merasa sangat terhubung sampai merasakan kehadiran karya sastra ini sebagai seorang teman. Rasanya seperti kegelisahanku tentang dunia yang sedang aku hadapi sekarang itu sedikit direpresentasikan oleh karya sastra, maka aku seperti punya teman yang mempunyai pandangan serupa tentang dunia. Itulah salah satu kenikmatan dalam membaca karya sastra terutama cerpen atau novel. Seperti ketika aku membaca karya sastra setebal 71 halaman yang bisa diselesaikan dalam sekali duduk ini. Ditulis oleh Leo Tolstoy dengan judul Berapa Luas Tanah Yang Dibutuhkan Seorang Manusia .  Awalnya aku pikir cerita ini akan membandingkan kehidupan kota dan desa, di mana kehidupan di desa itu lebih baik daripada kehidupan di perkotaan. Pada awal bab, Tolstoy seperti ingin memberikan pandangann...

Serampangan (1)

 Akhir-akhir ini aku merasa kematian semakin dekat denganku. Mereka selalu ada di belakangku setiap saat, namun kadangkala aku pun takut dengan keberadaan mereka. Takut dengan keadaan yang akan membuatku letih ketika berhadapan lagi dengan kegelapan. Selama ini aku pikir aku sudah menemukan secerca cahaya untuk terus melangkah maju. Namun, saat itu pula aku tersandung dan kembali sadar akan realita yang sebenarnya membelengguku. Aku harus sadar bahwa aku tak hidup dalam angan-angan semata, aku harus menghadapi semua hal yang menimpaku, dengan kemungkinan terbesar sendirian. Akhir-akhir ini aku kurang mawas diri dengan keadaanku sendiri. Aku harus berpikir keras untuk mengetahui apa yang sedang aku pikirkan. Ternyata berpikir itu sulit. Berpikir melalui pertanyaan yang menerobos masuk tanpa bendungan ke dalam pikiran. Penih tak terhindarkan olehnya. Gundah dan cemas tak pernah berhenti menghantui. Inilah saat-saat aku butuh suatu injeksi serotonin yang memudahkanku untuk bergerak. N...